kubuskecil. Powered by Blogger.

Bonjour & Welcome

T E R B A R U !!

Pembelajaran Bahasa Jawa di Sekolah Dasar

Sumber Gambar Belajar adalah suatu proses perubahan di dalam kepribadian manusia, dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bent...

Subscribe Via Email

Subscribe to our newsletter to get the latest updates to your inbox. ;-)

Your email address is safe with us!

THINK AGAIN!!

Translate

Blogger templates

Blogger templates

Blogroll

Kajian tentang Aksara Jawa (Aksara Nglegena / Aksara Legena / Aksara Dhentawiyanjana)

Saturday, April 29, 2017


AksaraJawa berbeda dengan abjad latin yang sering digunakan dalam berkomunikasi secara lisan maupun tertulis. Abjad latin bersifat alpabetic, yaitu memerlukan vokal sebagai pembantu bunyi. Sedangkan aksara Jawa syllabaric (kesukukataan) yang mampu berbunyi walaupun berdiri sendiri. Menurut Darusuprapta (2002:5), carakan (abjad Jawa) yang digunakan di dalam ejaan bahasa Jawa pada dasarnya terdiri atas dua puluh aksara pokok yang bersifat silabik (bersifat kesukukataan).
Hal senada diungkapkan oleh Sumadji Dwidjahapsara (2000:1) :
“Aksara Jawi punika ingkang baku cacahipun wonten 20, dipun wastani DHENTAWIYANJANA. Dhenta untu. Wiyanjana leretan/deretan ingkang tumata. Dados aksara Jawi  punika kados dene leretan.derertane untu. Urut-urutanipun aksara dipun wastani CARAKAN JAWI lan wujudipun aksara dipun wastani CAKRIK JAWI. Aksara Jawi punika tanpa Sandangan sampun saget mungel, dipun wastani NGLEGENA. Nglegena tegesipun taksih WUDA”.

Yang diterjemahkan sebagai berikut :
“Aksara Jawa yang pokok jumlahnya 20, disebut sebagai Dhentawiyanjana. Dhenta itu gigi. Wiyanjana deretan yang tertata. Jadi Aksara Jawa itu seperti deratan gigi. Urutan aksara disebut sebagai Carakan Jawa dan wujud aksara disebut sebagai Cakrik Jawa. Aksara Jawa itu tanpa sandangan sudah bisa berbunyi yang disebut sebagai Nglegena. Nglegena artinya masih telanjang (belum mendapat imbuhan).”
Menulis aksara Jawa pada hakikatnya sama dengan pengalih hurufan dari abjad latin ke aksara Jawa. Menulis huruf Jawa menuntut adanya pemahaman, ketelitian, dan latihan yang teratur. Hal ini bertujuan supaya dapat menghasilkan tulisan berhuruf Jawa dengan baik dan benar. Tulisan yang baik dalam menulis aksara Jawa dapat dilihat pada ketepatan penulisan aksara Jawa beserta perangkatnya sesuai dengan kaidah penulisan yang berlaku.
Secara rinci aksara Jawa dan Sandangan dikelompokkan sebagai berikut :
a.       Aksara Jawa
1)      Aksara Pokok (Aksara Nglegena)
Menurut Darusuprapta (2002:5), masing-masing aksara pokok mempunyai aksara, yakni aksara yang berfungsi untuk menghubungkan suku kata tertutup konsonan dengan suku kata berikutnya, kecuali suku kata yang tertutup wignyan, layar, dan cecak Berikut ini adalah aksara Jawa pokok atau aksara Nglegena beserta pasangannya yang berjumlah 20 buah :
Tabel 1
Tabel Aksara Nglegena
a
ha
n
na
c
ca
r
ra
k
ka
f
da
t
ta
s
sa
w
wa
l
la
p
pa
d
dha
j
ja
y
ya
v
nya
m
ma
g
ga
b
ba
q
tha
z
nga

Tabel 2
Tabel Pasangan Aksara Nglegena




















Ada beberapa catatan dalam penggunaan aksara Nglegena ini menurut Darusuprapta (2002:10) :
1)   Aksara pasangan ha, sa, dan pa ditulis dibelakang huruf konsonan akhir suku kata di depannya. Aksara pasangan selain yang disebutkan itu ditulis di bawah aksara konsonan akhir suku kata di depannya.
2)   Aksara ha, ca, ra, wa, dha, ya, tha, dan nga tidak dapat diberi aksara pasangan atau tidak dapat menjadi aksara sigegan (aksara penutup suku kata). Di dalam hal ini aksara sigegan ha diganti dengan wignyan, aksara sigegan ra diganti layar, aksara sigegan nga diganti cecak, dan hampir tidak ada suku kata yang berakhir sigegan ca, wa, dha, ya, tha.
Contoh pemakaian aksara Nglegena dan pasangan
aja                        = aj
maca                     = mc
kartana                 = krTn
2)      Aksara Murda
a)      Aksara murda berjumlah delapan buah, yakni na, ka, ta, sa, pa, nya, ga, ba.
b)      Aksara murda dapat dipakai untuk menuliskan nama gelar dan nama diri, nama geografi, nama lembaga pemerintah, dan nama lembaga berbadan hukum.
c)      Aksara murda tidak dipakai sebagai penutup suku kata. (Darusuprapta, 2002:11-12)
Berikut ini adalah aksara murda beserta pasangannya yang berjumlah 8 buah :
Tabel 3
Tabel Aksara Murda
Nama Aksara
Wujud Aksara
Na
!
Ka
@
Ta
#
Sa
$
Pa
%
Nya
^
Ga
&
Ba
*

Catatan :
Aksara murda jumlahnya terbatas, tidak semua aksara yang terdaftar didalam carakan ada aksara murdanya. Oleh karena itu, pemakaian aksara murda tidak identik dengan pemakaian huruf kapital di dalam ejaan Latin. (Darusuprapta, 2002:13)
Contoh penggunaan aksara Murda :
Nabi Nuh                     !bi!uh
Tawangmangu             #w=mzu

3)      Aksara Swara
a)      Aksara suara (aksara swara) berjumlah lima buah, yakni : (a), (e), (i), (o), (u)
b)      Aksara suara digunakan untuk menuliskan aksara vokal yang menjadi suku kata, terutama yang berasal dari bahasa asing, untuk mempertegas pelafalannya.
c)      Aksara suara tidak dapat dijadikan sebagai aksara pasangan sehingga aksara sigegan yang terdaftar di depannya haris dimatikan dengan pangkon.
d)     Aksara suara dapat diberi Sandangan wignyan, layar, dan cecak. (Darusuprapta, 2002:14).
Berikut ini adalah aksara swara yang berjumlah 5 buah :
Tabel 4
Tabel Aksara Swara
Nama Aksara Swara
Wujud Aksara Swara
A
A
I
I
U
U
E
E
O
O
                                   
                        Contoh penggunaan aksara swara :
Eropa               E[rop
Organ              O rGn\
4)      Aksara Rekan (Aksara Rekaan)
a)      Aksara rekaan (aksara rekan) berjumlah lima buah, yakni : kha, dza, fa/va, za, gha.
b)      Aksara rekaan dipakai untuk menuliskan aksara konsonan pada kata-kata asing yang masih dipertahankan seperti aslinya.
c)      Aksara rekaan dapat menjadi aksara pasangan, dapat diberi pasangan, serta dapat diberi sandhangan.
Berikut ini adalah aksara rekaan beserta pasangannya yang berjumlah 5 buah :
Tabel 5
Tabel Aksara rekaan beserta pasangannya


Contoh penggunaan aksara rekaan :
Ghazali            g+j+li         
Zakat               j+kt\
b.      Sandangan
Sandangan ialah tanda diakritik yang dipakai sebagai pengubah bunyi di dalam tulisan Jawa. Di dalam tulisan Jawa, aksara yang tidak mendapat Sandangan diucapkan sebagai gabungan antara konsonan dan vokal a (Darusuprapta, 2002:18).
Vokal a di dalam bahasa Jawa mempunyai dua macam varian, yakni /o/ dan /a/.
1)   Vokal a dilafalkan /o/, seperti pada kata bom, tolong, pokok, tokoh di dalam bahasa Indonesia, misalnya :
ana                          an
dawa                       tw
2)   Vokal a dilafalkan /a/, seperti a pada kata pas, ada, siapa, semua di dalam bahasa Indonesia, misalnya :
abang                      ab=
dalan                       fln\
             Sandangan aksara Jawa dapa dibagi menjadi tiga golongan, yaitu :
1)      Sandangan swara (Sandangan bunyi vokal)
2)      Sandangan panyigeg wanda (Sandangan konsonan penutup suku kata)
3)      Sandangan wyanjana (Sandangan pembuka suku kata)
Secara rinci seperti di bawah ini :
1)      Sandangan swara (Sandangan bunyi vokal)
Sandangan swara terdiri atas lima macam, yakni :
a)      Sandangan wulu (…i.)
Sandangan wulu dipakai untuk melambangkan vokal (i) di dalam suku kata. Sandangan wulu ditulis di atas bagian akhir aksara. Apabila selain wulu juga terdapat sandangan yang lain, sandangan wulu digeser ke kiri.
Contoh penggunaan sandangan wulu :
siji                    siji              
bathi                bqi
wingi               wizi
b)      Sandangan pepet (…e.)
Sandangan pepet dipakai untuk melambankan vokal /e/ di dalam suku kata. Sandangan pepet ditulis di atas bagian akhir aksara. Apabila selain pepet terdapat sandangan yang lain, sandangan pepet digeser ke kiri. Sandangan pepet tidak dipakai untuk menuliskan suku kata re dan le yang bukan sebagai pasangan. Sebab suku kata re yang bukan pasangan dilambangkan dengan pa cerek dan le yang bukan pasangan dilambangkan dengan nga lelet.

Contoh penggunaan sandangan pepet :
segara             segr           
legi                  Xgi   
c)      Sandangan suku (….u)
Sandangan suku dipakai untuk melambangkan bunyi vokal u yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suatu suku kata, atau vocal u yang tidak ditulis dengan aksara swara. Sandangan suku ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang mendapat sandangan itu.
Contoh pengunaan sandangan suku :
watu                wtu
gunung            gunu=              
d)     Sandangan taling (…[.)
Sandangan taling dipakai untuk melambangkan bunyi vokal e atau e yang tidak ditulis dengan aksara swara e, yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suku kata. Sandangan taling ditulis di depan aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh penggunaan sandangan taling :
                                     kene                 [k[n                    
dhewe              [d[w
e)      Sandangan taling tarung ([o)
Sandangan taling tarung dipakai untuk melambangkan bunyi vokal o yang tidak ditulis dengan aksara swara o, yang bergabung dengan bunyi konsonan di dalam suku kata. Sandangan taling tarung ditulis mengapit aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh penggunaan sandangan taling tarung :
                              bodho              [bo[do
                              ijo                    ai[jo
2)      Sandangan panyigeg wanda (Sandangan konsonan penutup suku kata)
Sandangan penanda konsonan penutup suku kata (sandangan panyigeg wanda) terdiri atas empat mcam, yakni :
a)      Sandagan Wignyan (….h)
Sandangan wignyan adalah penganti sigegag ha yaitu sandangan yang dipakai untuk melambangkan konsonan h penutup suku kata. Penulisan wignyan diletakkan di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh penggunaan sandangan wignyan :
                              gagah              ggh
                             cahya               chy
b)      Sandangan Layar (…../)
Sandangan layar adalah pengganti sigegan ra yaitu sandangan yang dipakai untuk melambangkan konsonan r penutup suku kata. Sandangan layar ditulis di atas bagian akhir aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh penggunaan sandangan layar :
                              pager               pge/              
                             tirta                  ti/t
c)      Sandangan Cecak (…...=)
Sandangan cecak adalah pengganti sigegan nga yaitu sandangan yang dipakai untuk melambangkan konsonan ng penutup suku kata. Sandangan cecak ditulis di atas bagian akhir aksara yang dibubuhi sandangan itu.
Contoh penggunaan sandangan cecak :
                             jangkah           j=kh
                             walang                        wl=
d)     Sandangan Pangkon (…..\)
Sandangan pangkon dipakai sebagai penanda bahwa aksara yang dibubuhi sandangan pangkon itu merupakan aksara mati, aksara konsonan penutup suku kata, atau aksara panyigeg ing wanda. Sandangan pangkon ditulis di belakang aksara yang dibubuhi sandangan itu. Sandangan pangkon dapat dipakai sebagai pembatas bagian kalimat atau rincian yang belum selesai, senilai dengan tanda koma di dalam ejaan Latin.
Contoh penggunaan sandangan pangkon :
                                   adus                 afus\
pangan            pzn\
3)      Sandangan wyanjana (Sandangan penanda gugus konsonan)
Menurut Darusuprapta (2002:29), sandangan penanda gugus konsonan merupakan penanda asara konsonan yang diletakkan pada aksara konsonan lain di dalam suatu suku kata. Pendanda gugus konsonan di dalam aksara Jawa terdiri atas lima macam, yakni :
a)      Cakra (…..])
Tanda cakra merupakan penanda gugus konsonan yang unsur terakhirnya berwujud konsonan r. Tanda cakra ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda cakra tersebut. Aksara yang sudah bertanda cakra dapat diberi sandangan selain pepet dan tidak dapat diberi penanda gugus konsonan yang lain. Aksara bertanda cakra yang mendapat pepet diganti dengan keret
Contoh penggunaan cakra :
                                 sasra                ss]
                                krawu              k]wu
b)      Keret (….})
Tanda keret dipakai untu melambangkan gugus konsonan yang berunsur akhir konsonan r yang diikuti vokal e /e atau sebagai pengganti tanda cakra yang mendapatkan penambahan sandangan pepet. Tanda keret ditulis serangkai di bawah bagian akhir aksara yang diberi tanda keret itu.
Contoh penggunaan keret :
                               kreteg              k}teg\
                               brengos           b}[zos\
c)      Pengkal (…..-)
Tanda pengkal dipakai untuk melambangkan konsonan y yang bergabung dengan konsonan laian di dalam suatu suku kata. Tanda pengkal ditulis serangkai di belakang aksara yang diberi tanda pengkal itu.
Contoh penggunaan pengkal :
                               kyai                  k-ai
                                tyas                  t-s\
          
Catatan : Aksara Jawa di atas merupakan rangkuman dari berbagai sumber. Aksara Wilangan (angka) belum tercantum dalam tulisan di atas. Mohon maaf bila ada kesalahan dan mari belajar bersama.

0 komentar:

Post a Comment